Book Review: Koala Kumal

Last month, I joined preorder of Koala Kumal via Bukabuku site. The advantages by joining preorder are, besides you will get and read the book earlier (the book will be released on January 17th, 2015), you can also get the free T-shirt of Koala Kumal from Raditya Dika, which will be given to the first 1000 preorder. Yeah, I wish I was. Unfortunately, when I ordered the book (it was just approximately 7 hours after the opening of preorder), the T-shirts have been out of stock! Believe it or not, less than 7 hours they already have more than 1000 buyers? Waw!
Okay, lets forget about the T-shirts. 😀

image

I only got Raditya Dika's signature on it. Sigh! 😀

This book is easy to read. Same as the other Raditya Dika‘s books, this is all about true daily-story of him. But, don’t expect too much humor in it. The whole story is referred to broken heart. In some part of this book, I did laugh. But most of it I didn’t. My favourite chapter are “Patah Hati Terhebat” and “Aku Ketemu Orang Lain”. It was so touchy, I could feel the “real” of the writter in it. 😦
Hmm.. Because I love quoting every book I read, let me just write them down. Ready for spoiler? Pardon me. 😀


Chapter: Lebih Seram dari Jurit Malam

‘Buat gue, sih, sederhana.’ Gue menepuk pundak Nikolas. ‘Kalau lo gak mau dikerjain jangan pernah ngerjain orang. Kalau gak pengen dimarahin jangan pernah marahin orang…’

Chapter: Patah Hati Terhebat

‘Nah, orang yang susah jatuh cinta punya banyak kelebihan, misalnya, gue. Gue jarang galau karena cowok. Tapi kelemahan orang yang susah jatuh cinta: ketika gue akhirnya beneran jatuh cinta, bisa sangat-sangat dahsyat. Kayak ledakan nuklir di film-film Hollywood. Kayak kena Avada Kedavra-nya Voldemort.’

Chapter: Aku Ketemu Orang Lain

Terus terang gue sedih, tapi kesedihan gue mulai hilang karena keraguan gue terhadap hubungan kami. Long distance relationship bukanlah sesuatu yang gue inginkan. Buat gue saat itu, esensi sebuah hubungan adalah dengan adanya keberadaan orang yang kita sayang di samping kita.
——–
Sabuk pengaman yang pacar gue butuhkan adalah kepercayaan gue. Kepercayaan pada dia, pada kami berdua. Omongan sederhana: ‘Aku yakin bisa ngelewatin ini berdua sama kamu.’ Karena yang bisa menyelamatkan long distance relationship adalah kepercayaan.
——–
‘Aku ketemu orang lain,’ kata Pacar.
‘Apa?’
‘Aku,’ kata dia, lalu melanjutkan, ‘ketemu orang lain.’
Selanjutnya gue tidak ingat jelas. Gue masih ingat habis itu gue bengong lama. Bersandar di kursi abu-abu di dekat telepon. Pacar mulai panik dan bilang berbagai macam hal, di antaranya “Bukan kamu yang salah, aku yang salah” dan “Kamu masih yang terbaik buat aku, kok”. Telepon kami pun berakhir dengan kalimat yang keluar dari mulutnya, “Kita putus baik-baik aja, ya.”

Chapter: Koala Kumal

‘Dik, kamu tahu gak istilah Mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati?’
‘Apa, Ma?’
Nyokap menatap mata gue, lalu bilang, ‘Dewasa’.

So, what you guys wait for? Go grab it in the closest bookstore! 🙂

Advertisements

One thought on “Book Review: Koala Kumal

  1. gue udah mesen bukunya mit, tp belum nyampe.
    tadinya ga mau baca spoiler, eh malah baca juga, haha.
    humornya berkurang karena menyesuaikan umur kali yaa, pembacanya ikut menua bersama bukunya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s